Minggu, 26 Februari 2012

 Tuhan kita Tak Sama

Desember membingkai kenangan.
Cinta begitu serakah datang mengurai sesukanya.
Kala senja merona jingga,aku lusuh dihempas lelah.
Ditepi lorong ditebas sunyi aku kepayahan.
Bidadari kecil semesta dengan pesonanya,khas sayap cahayanya menengahi langit.
Keajaiban datang,mata lusuhku mengecap.
Isyarat bintang jatuh,inilah kesedihan yang tlah usai.
Tanpa ragu memekik "Aku mencintaimu tanpa titik koma".
Bias membias,pendar memendar,mimpi memulai kisah sesatnya.
Baru saja aku mengeja kebahagiaan,,Ah Tuhan kita tak sama

larik cinta


Alih-alih melepaskan dan melupakan,apa daya ingatan punya haknya sendiri u/ bergeming.
Setiap kali kucoba mengurai sgala tentangmu dr kedalamannya,aku mengaku betapa ingin kau hadir walau hanya sepersekian detik.
Terima kasih kamu telah menyelamatkan kemuakan dlm detik penderitaan yg begitu panjang yg nyaris membuatku bosan u/ bernafas.
Aku semakin yakin mengingkari cinta denganmu adalah ketololan sempurna.
Betapa Bisa mencintaimu adalah kebahagiaan sempurna yg mengakar lekang dalam barisan hari,dan kau tak perlu tau.

Entahlah

Entahlah


Entahlah sudah berapa kali
Sejauh kuberlari tetap saja bayangmu memenuhi bejana kerinduanku
Tak sedikitpun aq mampu beranjak
Sebentuk hati yang kau cetak dalam prasasti cinta terlalu indah hingga aku tak mampu pergi dan berpaling
Jika akhir bukan pilihan,biar kutelan mentah-mentah dan kutimang cinta buta dalam semu yang meremuk redam dalam rongga keterpisahan
Cuma ada kata "Entah" saat kuberharap keajaiban datang dan tahu-tahu kita bersatu tanpa perbedaan
Seharusnya kusudahi saja apa yang seharusnya kuakhiri
Kuakhiri apa yang seharusnya kusudahi tanpa tanya
Entahlah,entah kapan dan dimana
Kenyataan belum juga mau berdamai